Silent Love
By: Lamria Delima Sirait :)
Steva
yang masih menggunakan seragam putih abu-abunya sedang sibuk
membentang-bentangkan semua buku dan tas selempangnya yang basah kuyup
diselasar koridor sekolah lantai 3.
“Kurang ajar! Liat aja si
Yosua, nanti bakal gue bikin kapok dia!” sungut Steva kesal, Claire
sahabat Steva yang sedari tadi membantunya hanya tersenyum simpul.
“Sabar
ya Stev. Eh heran yah si Yosua itu, kok cuma lo yang diusilin?
Jangan-jangan dia ada rasa kali sama lo?” goda Claire pada Steva
“Heh sialan lo, ogah gue!”
“Hai
lady’s lagi sibuk ye? Eh, neng cucian dirumah jangan dijemur
disekolahan dong! Masa baju olah raga digantungin gitu kaya bendera?”
ledek Yosua yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri mereka dengan
gaya sok akrab.
“Eh babon gila! Nggak usah ceramah deh lo, liat
nih karya tangan lo, mending numpahin air lah ini susu cokelat!” pekik
Steva, sementara Claire menahan tawa
“Haha sorry ye Stev, stok air
mineral gue habis jadi susu UHT aja ya? Biar sekalian ninggalin noda
ditas, buku dan baju olah raga lo, lumayan buat kenang-kenangan” ujar
Yosua disela-sela tawanya “udah ah, selamat menjemur” tambahnya lalu
pergi. Steva menatap penuh kesal pada punggung Yosua yang semakin
menjauh.
“Liat lo ya, hari ini lo bakal terima balesan dari gue”
desis Steva, Claire hanya mengangguk seolah menyetujui ucapan Steva
barusan, ia tau pasti ucapan Steva tadi tidaklah main-main “pasti seru”
serunya dalam hati.
***
“Lo
kenapa sih Yos, seneng amat ngusilin Steva?” tanya Daniel saat mereka
sedang berganti pakaian, sebentar lagi mereka akan masuk ke pelajaran
olah raga.
“Nggak kenapa-napa sih, cuma asik aja ngusilin si
pendek itu. Kalo marahkan ngamuk terus meledak-ledak deh kaya kompor gas
LPG dari pemerintah” jawab Yosua kalem
“Em lo ada feel yah sama Steva?” tuding Daniel sesukanya
“Ngaco!
Masa gue suka sama bonsai gagal itu? Eh, selera gue tuh kaya Logan
Lerman, Christina Aguilera atau nggak kaya Kate Elizabeth Winslet tuh
yang jadi Rosse difilem Titanic”
“Halah sepik aja lo, lagian mana mau tuh artis sama lo!” cibir Daniel
“Eh Niel, baju olah raga gue mana ya?” tanya Yosua sambil mengubik isi tasnya
“Coba cari yang bener, masa nggak ada? Apa jangan-jangan lo lupa bawa kali?” Daniel ikut mencari
“Gak
mungkin gue lupa bawa, wong pas istirahat aja masih ada kok” ucap Yosua
dengan pasrah, seketika satu suara teriakan membahana masuk kedalam
ruang ganti, suara yang sudah akrab dan tak asing lagi buat
kuping-kuping kedua cowok ini
“YOSUA! YOSUA! Kaos olah raga lo
nyangsung tuh diring basket, berkibar-kibar ketiup angin kaya bendera
Hinomaru!” jeritan nyaring khas Claudio menyadarkan Yosua, seketika
Yosua tersentak kaget dan dengan cepat ia berlari keluar menuju lapangan
basket, sesampainya disana Pak.Fras dan seisi warga 11.IPA-2 sedang
menatap konsen pada kaos putih bernoda merah yang berkibar diring
basket. Sekarang Yosua mengerti apa maksud dari bendera Hinomaru, dikaos
putih polosnya terlukis satu lingkaran merah besar.
“Ciee ciee,
ada tentara Jepang nyasar nih” sahut Steva dari kejauhan, Yosua menoleh
kesumber suara, otomatis amarahnyapun terpancing
“Argh! Sial,
fanta! Stevaa!” bentak Yosua dan si empunya nama hanya tersenyum dari
kejauhan. Baru saja Yosua ingin menghujaninya dengan makian, tapi
Pak.Fras sudah keburu menahannya dan tak salah lagi Yosua dihukum 20
kali lari keliling lapangan, awalnya Yosua ingin mengajukan protes tapi
ketika dilihatnya mata Pak.Fras yang melotot seram niat itupun
diurungkannya. “Haahh..haahh..haah...” nafas Yosua terpenggal-penggal.
Hanya satu kata saja yang dapat ia teriakan: CAPEK!, disampingnya Daniel
hanya tertawa kecil melihat raut melas dari wajah Yosua. Ketika
pemanasan usai, beberapa anak kompak berbaris menunggu giliran untuk
pengambilan nilai basket. Dari pinggir lapangan Yosua melihat sesosok
Steva yang sedang tertawa terbahak, melihat tingkah gadis itu yang masih
bisa tertawa geli, amarah Yosuapun bangkit kembali, dihampirinyalah
gadis itu lalu ditariknyalah kunciran yang menempel dikepala Steva,
seketika rambut Steva berkibar tertiup angin. Segera Steva bangkit
berdiri dan mengejar Yosua, dilemparkannyalah sepatu fantovelnya kearah
Yosua dan dengan senang hati Yosua menangkapnya, lalu kembali Yosua
lemparkan sepatu itu hingga sukses menggantung diatas pohon rambutan.
“YOSUA! SIALAN!” jerit Steva penuh kekesalan.
***
Keributan-keributan semacam itu sudah jadi santapan biasa bagi warga
11.IPA-2 SMA.Global Mandiri, entah apa maksud dan tujuan dari kedua
pelaku keributan ini. 27 kepala selain Steva dan Yosua menyimpulkan
kalau keduanya saling suka hanya saja mereka berdua terlalu gengsi untuk
mengakuinya.“Kalo lo suka, ya jangan lo usilin mulu dodol” ujar Daniel
pada Yosua saat jam pelajaran fisika, didepan ada Pak.Harwin yang sibuk
menulis soal
“Apaan sih? Kan gue udah bilang kalo gue cuma demen aja ngeliat tuh bonsai ngamuk”
“Masa? Kan kalian udah kenal dari TK, berarti lo jodoh sama dia”
“Hah
jodoh? Sama kurcaci pendek itu? Iih amit-amit deh” desis Yosua pelan
sambil menggetok-getokkan jidatnya dengan kepalan tangannya.
“Ih
pokoknya kalian tuh JODOH!” Daniel tiba-tiba berteriak kencang, PLETAK!
Satu spidol hitam sukses mendarat diubun-ubun Daniel.
“Daniel,
sudah merasa pintar kamu? Cepat kerjakan soal dipapan tulis ini
SEKARANG!” umpat Pak.Harwin, Daniel balik menoleh menatap wajah Yosua
dengan tampang bete, Yosua membalas tatapan bete itu dengan satu senyum
simpul sambil berucap “rasain lo”.
***
Yosua terdiam menatap langit-langit kamarnya, perlahan petikan gitar
terdengar. Yosua memainkan gitarnya sambil tidur-tiduran diatas sofa
panjang. Tiba-tiba Yosua tersenyum, ia teringat akan senyum, tawa, serta
amarah Steva, “Lucu juga” gumamnya dalam hati. Bohong kalau selama ini
Yosua mengaku bahwa ia tidak menyukai Steva, perkenalan sejak 13 tahun
yang lalu membuat Yosua tidak mampu menghapus bayangan Steva dari
benaknya, hanya saja ia terlalu malu untuk menyatakannya, menurutnya
Steva pasti akan menertawakan perasaannya itu apa lagi kalau ternyata
Steva tidak pernah menyukainya. “Ah sial, damn! Kenapa jadi aneh gini
sih perasaan gue?” batinnya sesak. Sementara itu ditempat lain...
“Aku nggak mau!” jeritan Steva membahana keseantero
rumah, Claire yang berada dilantai atas rumah Steva dengan cepat
memasang kuping. Oke memang tidak sopan, tapi ia sangat penasaran “aku
nggak mau sekolah diAmerika, titik!” jerit Steva lagi, Claire tertegun,
Mama dan Papa Steva segera menenangkan putri tunggalnya itu.
“Tapi sayang, masa depan kamu akan terjamin kalau kamu sekolah disana” ucap Mama
“Masa
depan apa? Toh aku juga udah sekolah disekolah internasional pilihan
Mama dan Papa, kenapa aku harus pindah lagi? KENAPA?” teriak Steva
disela-sela isak tangisnya.
“Stevany dengarkan Papa,
Amerika punya kualitas pendidikan yang sangat bagus, Papa yakin kamu
akan menjadi individu yang luar biasa sepulangnya dari sana” ucap Papa
sambil memeluknya, dengan cepat Steva menepis pelukan itu
“Jangan sentuh! Steva benci kalian berdua!” teriak Steva seraya berlari
ke kamarnya, sesampainya dikamar Steva langsung memeluk Claire sambil
terisak, pertahanan Clairepun jebol, air mata Claire mengalir deras tak
tertahankan. Mereka berdua sama-sama tau, seperti apapun penolakan
Steva, toh keputusan kedua orang tuanya tidak akan berubah. “Hei cantik
jangan nangis lagi ya? Kita nikmatin aja sisa-sisa kebersamaan kita”
ujar Claire disela-sela isak tangisnya, perlahan lantunan lagu favorit
Steva terdengar dari bibir Claire
‘Saat Kau Pergi’.
***
Yosua terdiam mematung menatap Steva didepan kelas, gadis itu baru saja
mengumumkan kepergiannya ke Amerika besok lusa. Yosua merasa sesak tak
tertahankan, apalagi ketika mata Steva yang basah itu melihat kearah
dirinya, sungguh Stevapun tak rela pergi meninggalkan Claire,
teman-temannya dan Yosua. Haahh Yosua, musuh bebuyutannya sekaligus
cinta pertamanya. Steva tertegun sebentar, ia menatap lirih dua bola
mata dihadapannya “nggak mungkin Yosua sedih, dia pasti seneng banget
kalo gue pergi” bantinnya sesak.
***
“Sumpah lo orang paling bego yang pernah gue kenal, kenapa sih lo nggak
pernah mau jujur sama perasaan lo sendiri?” tanya Daniel dengan heran
setengah mati
“Gue,, gue cuma takut ditolak, kayanya dia benci banget sama gue”
“Makanya
lo juga sih bego diusilin mulu, lagian lo nggak akan pernah tau
perasaan dia kalo lo aja nggak pernah berani untuk ungkapin” bentak
Daniel “sekarang apa? Dia mau cabut ke Amerika, A-ME-RI-KA! Lo kata
Amerika tinggal ngesot apa?”
“Iya iya gue salah, terus mau gimana lagi Niel? Gue terlambat”
“Gak
ada kata terlambat!” Daniel segera menyeret Yosua masuk kedalam Vios
Hitamnya dan segera melesat menuju bandara internasional Soekarno-Hatta.
Steva
baru saja tiba dibandara, kepergiannya diiringi oleh kedua orang tuanya
dan sahabat terbaiknya, Claire. Sedari tadi mereka tidak melepaskan
rangkulannya, sesekali air mata mengalir dari balik kaca mata hitam
keduanya. “Sering-sering kabarin gue yah Stev?” ucap Claire,
Steva mengangguk
“Gue titip Yosua yah? Bilang ke dia kalo gue sayang banget sama dia”
“Lo
nggak pamit sama Yosua?” Steva menggeleng pelan “yaudah nanti gue
bilangin ke dia” sambung Claire pelan. Kemudian mereka semua berjalan
dengan pelan menuju gerbang keberangkatan tepat ketika Vios milik Daniel
berhenti diseberang jalan.
“STEVA” teriakan Yosua
mengalahkan kebisingan dibandara “ELYTA STEVANYA” sontak Steva menoleh,
ketika dilihatnya sosok Yosua Stevapun tak mampu menahan diri,
rangkulannya degan Clairepun terlepas
“YOSUA” teriak Steva lalu berlari menghampiri Yosua, air mata Steva kini mengalir dengan sangat deras
“Stevany
kembali kesini!” teriak Papanya tapi tak ia gubris. Tanpa ia sadari
sebuah benda meluncur dengan cepat dijalanan yang lenggang itu,
pengemudi sedan itu lengah, ia tak menyangka akan ada orang yang berlari
melintasi jalan, lalu benturan itupun tak dapat terelakkan, suara logam
beradu dengan daging dan tulang memecah keheningan, rem berdecit
sia-sia, Steva tewas ditempat. Yosua berlari seperti orang kesetanan,
namun sayang rupanya si empunya sedan ingin melarikan diri dan malah
menghantam tubuh Yosua, Yosuapun terpental terhempas tepat disisi tubuh
tak bernyawa Steva, Yosua juga tewas ditempat. Orang-orang panik
berlarian menghampiri korban. Papa dan Mama Steva mengalami depresi
berat, Claire meraung dalam pelukan Daniel yang juga menangis. Tapi
siapapun yang ada disana dapat melihat wajah kedua mayat itu yang
menyiratkan kebahagiaan dan tangan Yosua yang berada diatas tangan Steva
seolah mereka sedang bergandengan erat.
***
Pemakaman
itu dihadiri seluruh siswa siswi 11.IPA-2 SMA.Global Mandiri, siapa
sangka mereka akan kehilangan dua sekaligus teman sekelas mereka yang
memang paling sering bertengkar. Dari batu nisan yang terhiasi tanda
salib terukir nama Elyta Stevanya dan Yosua Andrean, disamping makam
yang bersisian terlihat dengan jelas kedua orang tua Steva dan Yosua
yang tak henti-hentinya menangis. Sungguh pemandangan yang sangat
menyayat hati. Dari depan makam keduanya, Claire masih tak kuasa
membendung air matanya sebisa mungkin Daniel menenangkan pacarnya itu
walau sebenarnya ia juga sangat bersedih. Perlahan sayup-sayup terdengar
suara Claire menyanyikan lagu favorit Steva...
entah
mengapa hatiku t’rus gelisah... apa yang kan terjadi? air mata pun jatuh
tak tertahan melihatmu terdiam.. ternyata kau pergi tuk slamanya...
tinggalkan diriku dan cintaku... apa kau melihat dan mendengar tangis
kehilangan dariku? baru saja ku ingin kau tau perasaanku padamu...
mungkin Tuhan tak izinkan sekarang kau dan aku bahagia... ternyata kau
pergi tuk slamanya.. tinggalkan diriku dan cintaku..
Dua sosok tak kasat mata itu tersenyum, dari kejauhan mereka menatap
pemakaman itu dengan senyum bahagia, tangan mereka saling bergandengan
erat seolah takkan bisa terpisahkan. Yosua mengecup kening Steva dengan
lembut, Steva balik memeluk pinggang Yosua. Sosok tak kasat mata itu
telah bahagia dialam lain, cinta yang terpendam selama 13 tahun didalam
hati mereka kini sudah tumbuh dan memekar karena kiranya mautpun takkan
mampu memisahkan cinta ini untuk selamanya
“I love you Steva” ucap Yosua lembut, Steva tersenyum simpul
“I
love you too Yosua” jawab Steva. Perlahan dua sosok tak kasat mata itu
menghilang ditelan awan tertutup dengan tangis kehilangan para pelayat
dibumi sana.
-The End -
contoh cerpen remaja